Cinta Tanah Air dan Tawakal
Suasana Kajian Kebangsaan bersama K.H. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) selalu punya cara tersendiri untuk mencerahkan hati sekaligus mengocok perut. Dengan gaya khasnya yang santai, mendalam, namun sarat makna, beliau mengupas tuntas hakikat kecintaan pada tanah air dan bagaimana posisi agama mengikat kesadaran bernegara kita.
Ketika Rasa Takut kepada Allah Menjadi Rem Utama
Dalam pandangan Gus Baha, aparat penegak hukum seperti polisi, tentara, serta pegawai negara lainnya tentu memiliki tugas dan fasilitas masing-masing yang melekat pada profesi mereka. Namun, jika kita telisik lebih jauh, kejahatan di muka bumi ini biasanya dicegah oleh dua ketakutan utama: takut tertangkap polisi dan takut menghadapi masalah sosial di masyarakat.
Bagi orang yang berketuhanan, ada satu rem moral yang jauh lebih mendasar, yakni rasa takut kepada Allah SWT. Inilah mengapa Sila Pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa", merupakan sebuah kenikmatan luar biasa bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya keimanan kepada Tuhan, ada banyak hal dalam tatanan hidup yang penjelasannya bermuara pada kesadaran spiritual.
Manusia Merencanakan, Allah yang Menentukan
Gus Baha sempat memberikan perumpamaan yang sangat logis mengenai keterbatasan manusia. Sekalipun kita menghadirkan pakar sosial dan ekonomi terbaik di negeri ini dan merancang pembangunan sebaik mungkin, pada akhirnya Allah SWT tetaplah pemegang kendali mutlak.
Jika tiba-tiba terjadi gempa dahsyat, meteor jatuh, atau bahkan air di bumi dihilangkan oleh-Nya, manusia bisa berbuat apa? Dari sinilah kesadaran bahwa ketergantungan hamba kepada Tuhan harus terus dipupuk dalam setiap keadaan. Ikhtiar dan perencanaan tetap berjalan, namun takdir mutlak tetap berada di tangan Sang Pencipta.
Analogi Unik: Jangan Jadi "Pecundang" yang Suka Membandingkan
Bagian paling menarik sekaligus menggelitik dari ceramah Gus Baha adalah ketika beliau menceritakan nasihatnya kepada seorang mahasiswa yang hendak kuliah di Inggris. Beliau berpesan agar kelak ketika melihat tatanan di Inggris atau Swiss yang begitu rapi dan makmur, mahasiswa tersebut tidak lantas membenci Indonesia.
Bagi Gus Baha, orang yang suka membanding-bandingkan negaranya sendiri lalu mendiskreditkannya di hadapan bangsa lain adalah seorang "pecundang". Seseorang yang benar-benar mencintai negaranya pasti ingin berbuat baik dan ikut menata, bukan sekadar menghakimi.
Beliau kemudian menganalogikannya dengan kehidupan rumah tangga secara jenaka. Ibarat seorang suami yang memiliki istri pas-pasan, lalu setiap kali keluar rumah melihat perempuan cantik dan langsung mengeluh, "Kok istri saya nggak seperti itu ya?" Lelaki seperti itu dicap sebagai pecundang oleh Gus Baha. Sebab, dirinya sendiri tentu tidak akan siap jika istrinya di rumah memuji laki-laki lain yang lebih tampan.
Sebaliknya, suami yang baik justru akan menyikapi keadaan dengan penuh penerimaan: "Wah, istri saya ini unik, wong nggak cantik kok ya saya tetap bisa cinta," candanya yang disambut gelak tawa jemaah.
Begitu pula dengan pandangan kita terhadap Indonesia. Ketika melihat negara lain lebih maju atau kaya raya, kita tidak perlu minder atau mencela negeri sendiri. Kita tetap bisa merasa bahagia karena hidup di negeri sendiri.
untuk lebih jelasnya, video tersebut dapat ditonton di sini
Video Kajian Kebangsaan 1
