SHOLAT SAMBIL BERSANDAR TEMBOK

 

Sholat sambil bersandar

SHOLAT BERSANDAR TEMBOK

PERTANYAAN:
Bagaimana hukumnya salat sambil ber-sandar pada tembok atau tiang?

JAWABAN:
Diperbolehkan dan hukumnya makruh.
•(وَشَرْطُهُ) أَيْ الْقِيَامِ (نَصْبُ فَقَارِ الظَّهْرِ) وَهُوَ عِظَامُهُ (لَا) نَصْبُ (الرَّقَبَةِ) لِمَا مَرَّ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ إطْرَاقُ الرَّأْسِ (فَلَوْ اسْتَنَدَ إلَى شَيْءٍ) كَجِدَارٍ (أَجْزَأَهُ وَلَوْ تَحَامَلَ عَلَيْهِ) وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ رُفِعَ السِّنَادُ لَسَقَطَ؛ لِوُجُودِ اسْمِ الْقِيَامِ (وَكُرِهَ) أَيْ اسْتِنَادُهُ.
[الأنصاري، زكريا ,أسنى المطالب في شرح روض الطالب ,1/145]

Salatnya tetap sah, namun hukumnya makruh.
Referensi:
مغني المحتاج (٢ / ٢٧٦) - وَلَوِ اسْتَنَدَ إِلَى شَيْءٍ كَجِدَارٍ أَجْزَاهُ مَعَ الْكَرَاهَةِ، وَلَوْ تَحَامَلَ عَلَيْهِ وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ رَفَعَ مَا اسْتَنَدَ إِلَيْهِ لَسَقَطَ لِوُجُودِ اسْمِ الْقِيَامِ وَإِنْ كَانَ بِحَيْثُ يَرْفَعُ قَدَمَيْهِ إِنْ شَاءَ وَهُوَ مُسْتَنِدُ لَمْ يَصِحَ؛ لِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى قَائِمًا بَلْ مُعَلَّقًا نَفْسَهُ.

Sholat dengan posisi bersandar di tembok pada saat berdiri hukumnya tetap Sah, akan tetapi hukumnya makruh.
📚الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع جـ ۲ صـ ٩ مكتبة دار الفكر
وشرط القيام نصب ظهر المصلي لأن اسم القيام دائر معه فإن وقف منحنيا إلى قدامه أو خلفه أو مائلا إلى يمينه أو يساره بحيث لا يسمى قائما لم يصح قيامه لتركه الواجب بلا عذر والانحناء السالب للاسم أن يصير إلى الركوع أقرب كما في المجموع ولو استند إلى شيء كجدار أجزأه مع الكراهة ولو تحامل عليه وكان بحيث لو رفع ما استند إليه لسقط لوجود اسم القيام وإن كان بحيث يرفع قدميه إن شاء وهومستند لم يصح لأنه لا يسمى قائما بل معلق نفسه اهـ
Menurut pendapat yang paling kuat, boleh-boleh saja orang shalat berdiri sambil bersandar pada benda di belakangnya seperti tembok, papan, atau lainnya, meskipun seandainya sandaran itu dihilangkan maka ia akan terjatuh. Hal ini dianggap cukup dalam melaksanakan kewajiban berdiri dalam shalat, meski dihukumi makruh. Hukum ini seperti halnya yang dijelaskan dalam kitab Raudhah At-Thalibin:
Disyaratkan dalam berdiri yaitu tegak lurus. Lalu apakah disyaratkan berdiri secara mandiri tanpa perantara apa pun? Dalam menanggapi permasalah ini terdapat beberapa pendapat. Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang dijelaskan dalam kitab At-Tahdzib dan kitab yang lain, bahwa tidak disyaratkan berdiri secara mandiri. Jika seseorang bersandar pada tembok atau manusia sekiranya jika sandaran itu dihilangkan maka ia akan terjatuh, maka shalat yang ia laksanakan tetap sah besertaan terkena hukum makruh. Pendapat kedua, disyaratkan berdiri secara mandiri, maka tidak sah shalatnya seseorang yang bersandar ketika ia masih mampu berdiri secara mandiri. Pendapat ketiga, boleh bersandar sekiranya ketika sandaran dihilangkan maka ia tidak terjatuh. Seandainya sandaran itu dihilangkan ia terjatuh maka tidak boleh baginya bersandar.

Meski bersandar dalam shalat ini diperbolehkan namun baiknya bagi seseorang agar tetap menjaga shalatnya dari kemakruhan ini dengan tetap melaksanakan shalat berdiri tanpa bersandar. Sebab, permasalahan tersebut masuk persoalan khilafiyah (debatable), sedangkan keluar dari sebuah permasalahan yang diperdebatkan oleh para ulama adalah hal yang sunnah (al-khuruj an al-khilaf mustahabbun).
Refrensi :
- kitab roudhoh (1/233) :
ﻓﺼﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ، ﺃﻭ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻡ ﻣﻘﺎﻣﻪ ، ﺭﻛﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﻘﻌﻮﺩ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﺠﺰ ، ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ، ﺍﻻﻧﺘﺼﺎﺏ . ﻭﻫﻞ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺍﻻﺳﺘﻘﻼﻝ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺴﺘﻨﺪ ؟ ﻓﻴﻪ ﺃﻭﺟﻪ : ﺃﺻﺤﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻓﻲ ‏( ﺍﻟﺘﻬﺬﻳﺐ ‏) ، ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ . ﻓﻠﻮ ﺍﺳﺘﻨﺪ ﺇﻟﻰ ﺟﺪﺍﺭ ﺃﻭ ﺇﻧﺴﺎﻥ ، ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﺴﻨﺎﺩ ﻟﺴﻘﻂ ، ﺻﺤﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ
- kifayatul akhyar (1/103):
ﻭَﻟَﻮ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺎﺩِﺭًﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻟْﻘﻴﺎﻡ ﻭﺍﺳﺘﻨﺪ ﺇِﻟَﻰ ﺷَﻲْﺀ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﻮ ﺍﻧﺤﻨﻰ ﺳﻘﻂ ﺻﺤﺖ ﺻﻠَﺎﺗﻪ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻜَﺮَﺍﻫَﺔ.
والله اعلم بالصواب


By : Kanata
dinuqil dari postingan FB
ALI MAHRUS

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama